BPN Prabowo-Sandi Inginkan KPU Perkuat Pengamanan Sistem IT

BPN Prabowo-Sandi Inginkan KPU Perkuat Pengamanan Sistem IT

5 views
0

Jakarta – Tim dari pasangan calon presiden dan wakil presiden no urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno memohon kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bisa memperkuat pengamanan sistem IT mendekati hari pencoblosan yang akan di lakukan pada 17 April 2019 mendatang.

Viva Yoga Mauladi selaku Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengungkapkan, melihat kembali dari Pilpres 2009 serta 2014 lalu yang sistem IT KPU bisa di rusak oleh beberapa pihak yang tidak bertanggungjwab. Hla itu di sampaikan oleh Viva saat berada di kawasan Jakarta Pusat, pada 12/3/2019.

“KPU harus selektif jaga keamanan IT nya karena beberapa kasus terjadi 2009 2014 ada hacker-hacker yan meretas beberapa partai, itu menunjukkan IT KPU bisa dijebol,” ungkap dia.

Maka dari itu, Dia menilai, jika kebijakan perhitungan Pemilu di Indonesia terus mendasar kepada perhitungan manual yaitu form C1. Tetapi walaupun begitu, sistem IT pun terus harus di awasi, hingga tidak adanya kabar tidaj benar di masyarakat.

“Harus dijaga agar tidak terjadi manipulasi rekayasa dan lainnya,” tutur dia.

BPN Prabowo-Sandi Inginkan KPU Perkuat Pengamanan Sistem IT

BPN Prabowo-Sandi Inginkan KPU Perkuat Pengamanan Sistem IT (rakyataktual.com)

Sebelum itu, kurang dari 35 hari mendekati hari pencoblosan Pemilu 2019 ini, berbagai serangan siber kepada situs milik KPU Republik Indonesia (RI) kerap kali terjadi. Tim penyerang merupakan peretas yang berasal dari dalam serta luar negeri.

Viryan Aziz selaku Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia (RI) menilai, jika para peretas tersebut memiliki beberapa maksud yang melatarbelakangi mereka untuk melakukan kejahatan tersebut.

Di duga, mereka hanya ingin tahu ataupun iseng. Dan atau mereka melakukan hal tersebut kecewa dengan sesuatu. Atau bahkan, ada maksud yang lain dari tindakan mereka tersebut. Hal itu di sampaikan oleh Viryan saat berada di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada 13/3/2019.

“Ada beberapa kelompok hacker yang melakukan peretasan. Pertama, karena mereka hanya sekadar ingin tahu. Kedua, bisa jadi ada yang kesal. Terakhir, ada juga motif lain,” tutup Viryan.

About author