Desa Cipetir, Penghasil Getah Karet masa Hindia Belanda

Desa Cipetir, Penghasil Getah Karet masa Hindia Belanda

36 views
0

Cipetir adalah sebuah desa di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Pada 2010, dihuni oleh 5.716 jiwa. Nama ini berasal dari bahasa Sunda, dan secara harfiah berarti “air  Guntur”, dari sini (“sungai”) dan petir (“guntur”) .Cipetir adalah perkebunan getah karet di abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sisa sisa  terdiri dari balok-balok getah karet yang sangat tahan terhadap korosi air, dengan kata “TJIPETIR” pada bagian luarnya. Bangkai kapal Miyazaki Maru, yang tenggelam pada tahun 1917. Sejumlah teori yang telah dipastikan oleh kebenaran juga telah muncul, tetapi sudah pasti bahwa itu berasal dari Indonesia. Persis dari perkebunan yang dikelola oleh PTPN Sukamaju VIII bernama Kebun Sukamaju di Desa Cipetir, Cikidang, Sukabumi. Benda-benda yang terdampar ke Eropa disebut gutta percha. Pabrik Gutta Percha Cipetir, Jawa Barat, sudah dimulai dengan penanaman kebun gutta percha pada tahun 1885.

tanaman ini lalu tersebar luas di pulau Sumatra, Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Berbagai nama Latin seperti Palaquium Sumatranensis, Palaquium Bornensis dan Palaquium Malayansis berada di belakang proyek ini.Pabrik ini awalnya dikelola oleh Kebun Raya Bogor sebelum pemerintah Belanda mengambilalih  kebun di bawah naungan Caoutchouch Bedrijf Lands (LCB), perusahaan yang dimiliki oleh Belanda. Berisi Tanaman, yang berusia lebih dari 100 tahun, juga menyimpan berbagai peninggalan masa lalu. Salah satunya adalah kisah orang tua di desa Cipetir bahwa pabrik itu dihancurkan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia karena dianggao milik Belanda, meskipun dibangun kembali kemudian. Temuan balok karet Tjipetir kemudian diunggah oleh Tracey Williams di halaman Facebook. Lambat laun, banyak orang datang untuk mengunjungi halaman itu dan mengatakan mereka menemukan balok karet Tjipetir juga, meskipun telah ditemukan beberapa dekade yang lalu.

Dengan perjalanan sekitar 1 jam hingga satu setengah jam dari pusat kota Sukabumi, Anda bisa menuju ke lokasi. Ketika kita berada di sana, sepertinya kita merasa kembali ke tahun 1930-an dan suasana dan pemandangan gedung disajikan oleh “Kampung Tempo Doeloe”. Bagaimana tidak, setidaknya sembilan rumah mewah pada zamannya dengan arsitektur khas Belanda masih sempurna dipelihara dan dihuni dari generasi ke generasi. Tiddak hanya rumah mewah yang disuguhkan kepada pengunjung ketika berkunjung ke area Kampeong Tempo Doeloe itu, rentetan bangunan khas jaman  itu juga menjadi saksi bisu perjuangan pada masa jaman penjajahan Belanda.

About author